Tubuhnya diibaratkan sebuah keramik, yang bila terbentur sedikit dia akan retak atau pecah, itulah tubuh penderita hemofilia harus dangat hati-hati menjaga tubuhnya untuk tidak terbentur atau luka sedikitpun…………..Mengenal pemuda ini memberikan inspirasi tersendiri begitu ramah dengan sapaannya dan bertemu dengan pemuda ini seperti layaknya bertemu dengan orang lain, begitu semangat, tidak ada suatu hal yang berbeda, sekilas sosoknya begitu kuat dan tangguh seperti laki-laki pada umumnya, rasa percaya dirinyapun begitu kuat terbangun, tapi siapa sangka setelah mengenalnya Dia adalah penderita hemofilia yang menjalani hidup harus berbeda dengan orang normal, namun begitu optimisnya Dia menjalani hidupnya sekarang. Mungkin kedengarannya belum begitu akrab apa itu hemofilia, sedikit untuk memberikan gambaran tentang apa itu hemofilia (Hemofilia adalah suatu penyakit yang diturunkan, darah pada seorang penderita hemofilia tidak dapat membeku dengan sendirinya secara normal. Proses pembekuan darah pada seorang penderita hemofilia tidak secepat dan sebanyak orang normal. banyak membutuhkan waktu untuk proses pembekuan darahnya. Kebanyakan mereka mengalami gangguan pendarahan di bawah kulit: seperti luka memar jika sedikit mengalami benturan, atau luka memar timbul dengan sendirinya jika penderita melakukan aktifitas yang berat: pembengkakan pada persendian, seperti lutut, pergelangan kaki atau siku tangan. Penderitaan para penderita hemofilia dapat membahayakan jiwanya jika perdarahan terjadi pada bagian organ tubuh yang vital seperti perdarahan pada otak.)
Keceriaan masa kanak-kanank pemuda inipun tidak dialaminya seperti anak-anak lain, melihat anak-anak lain, kadang Ia selalu merasa dirinya tidak berarti dan tidak seberuntung anak-anak tersebut, mereka bisa berlari kesana-kemari, mereka bisa main bola bersama, tertawa-tawa bersama dan kalau ia memaksakan diri bermain bola seringkali akan mengalami pendarahan di lutut apalagi kalau terjatuh badannya bisa biru dan bengkak-bengkak dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sembuh.
Selalu marah dan kesal pada dirinya sendiri adalah kesehariannya karena merasa sendirian, murung, perasaan sangat bodoh dan tidak berguna, bahkan rasa minderpun hinggap hingga tidak semangat menjalani hari-harinya. Terkadang ditengah berontaknya kadang Ia tidak mempedulikan kalau dirinya adalah penderita hemofilia, Ia ingin normal seperti anak-anak lain dan tidak dibatasi, hingga suka nekat untuk bermain apa saja dengan kawan-kawannya tapi kalau sudah terjadi pendarahan terpakasa tidak melakukan apa-apa sampai berhari-hari dan bila kecapekan ada saja bagian tubuhnya yang terasa sakit akhirnya kembali murung dan sedih, tergolek dikamar berhari-hari. Harapan untuk berobat dan bisa sembuh tampakanya hanya sebuah harapan yang berlebihan, ternyata dokter dan rumah sakit menjadi langganan dan sangat akrab dengannya.
Perjalanan hidup yang dilewati oleh pemuda tersebut yang akrab dipanggil Endi ini hingga Ia mencapai usia 28 tahun sekarang ini adalah sebuah perjuangan yang sangat melelahkan dan bukan hal mudah buatnya sampai Dia bisa menemukan kekuatan dirinya dan bisa menerima bahwa dirinya berbeda dengan orang lain dan untuk tidak menyalahkan siapapun atas semuanya hingga membuat kemampuan dirinya menjadi seperti orang lain yang tidak memliki keterbatasan.
Awalanya ketika usia 2 bulan dia didiagnosa dokter mengalami kelainan darah yang disebut hemofilia saat itu bayi berusia 2 bulan itu badannya lebam-lebam dan biru-biru, sejak saat itulah orang tuanya begitu hati-hati dan sangat membatasi dalam berbagai kegiatan dan permainan. Seiring usia yang berjalan, masa kanak-kanak pun dilaluinya tidak seperti anak-anak yang lain, setiap bermain harus dijaga dengan hati-hati, tidak boleh terjatuh apalagi terpleset dan permainannyapun harus selektif .
Masa kanak-kanak seperti cerita diatas mungkin efeknya belum bisa dirasakan secara kejiwaannya meskipun Dia sudah mulai merasakan betapa Ia merasa sendiri dan tidak bisa bergabung dengan temen-temannya bermain bola, berlari-lari, apalagi jika pelajaran olehraga di sekolah, Endi hanya duduk-duduk saja melihat teman-temannya beraktifitas, perasaan murung dan sedikit rendah diripun mulai menyergap, rumah sakit menjadi langganannya. Menginjak usia remaja, semakin dirasakannya bahwa dirinya begitu berbeda dengan teman-teman lainnya. Masih selalu dalam pengawasan untuk tidak boleh melakukan ini dan itu dan hal itu dirasakan sangat menyiksanya, karena sedikit terluka atau terbentur akan berakibat fatal bagi tubuhnya. Tubuhnya diibaratkan sebuah keramik yang tidak boleh terbentur sedikitpun apalagi terluka. Tak heran pada masa pertumbuhan itupun keluar masuk rumah sakit adalah langganan buat dia. Masuk sekolahpun mungkin bisa dihitung karena saking banyaknya dia absen ketidakhadiran. Bisa naik kelas saja buat Endi adalah suatu hal yang sangat luar biasa .Hampir-hampir putus asapun pernah dialaminya ketika duduk di bangku SMP, masa usia dimana remaja sedang energik-energiknya membangun jati dirinya, dengan berbagai kegiatan dan aktifitasnya namun Endi tidak bisa melakukan apa-apa, kemauan yang sangat kuat, obsesi dan pikirannya begitu ingin melakukan hal-hal seperti yang terbentuk dalam fantasi pikirannya namun terpasung dengan keterbatasan fisiknya. Keadaan dirinya membuatnya sangat-sangat depresi ketika itu, “kapan sih Aku bisa terlepas dari semua ini, dari ketergantungan obat dan dokter, bisa sembuh seperti anak lain dan bisa bermain dengan semua aktifitas” begitu gumamnya dalam hati, tapi penyakit ini adalah bukan sebuah penyakit, seseorang yang mengalami kekurangan pada faktor VIII yang mengakibatkan darahnya sulit membeku tidak bisa disembuhkan seumur hidup, yang bisa dilakukan adalah menyuntikkan kekurangan yang harusnya dimiliki manusia normal. Sehingga seumur hidupnya dia harus tergantung dengan obat-obat tersebut yang biayanya sangat mahal. Ditengah depresi melanda, keterputusasaan yang terlintas dipikirannya adalah bunuh diri, hmm sebuah jalan pintas yang sangat dangkal hampir diambilnya untuk mengakhiri penderitaannya. Seorang anak usia belasan tahun sudah berpikir untuk mengakhiri hidupnya sungguh tragis, inilah salah satu dampak psikologis yang dia rasakan begitu menyiksanya, saat itu menurut Endi, Dia hanya membayangkan betapa masa depannya akan suram karena tidak seperti teman-teman lainnya, ditengah keterputusasaannya itu Dia mengambil sebuah silet dan berniat mengiris urat nadinya, silet sudah menempel ditangan dan sangat dekat dengan urat nadinya tinggal sedikit gesekan darahpun mengucur dan tidak akan membeku, alhamdullillah Allah masih melindunginya seperti ada kekuatan lain yang menamparnya saat itu hingga siletnya terjatuh dan sesaat tersadar Dia pun mengurungkan niatnya untuk mengiris nadinya, Endi terdiam sejenak mulai tersadar dan pelan-pelan berjalan pulang mengurung diri dikamar mencoba menenangkan dirinya. Sungguh berat harus melewati masa-masa remaja dengan kondisinya yang tidak seperti orang lain, melihat fisiknya memang sempurna sehingga sekilas tidak ada yang lain dari kondisinya tapi fisik yang terlihat sempurna itu sangat lemah dan harus hati-hati membawa tubuhnya untuk tidak terbentur apalagi terjatuh dan beraktifitas yang berat karena bisa berakibat fatal.
Sampai suatu hari Dia mengalami kecelakaan ketika naik motor, sebenarnya secara medis adalah pantangan buat penderita hemofilia mengendarai motor karena sangat berresiko membahayakan jiwanya tapi itulah Endi yang tidak peduli dengan semuanya, untuk orang normal kecelakaan itu tergolong biasa, namun bagi penderata hemofilia benturan yang keras dikepalanya mengakibatkan pendarahan dalam yang sulit diatasi, pendarahan dikepalanya mengakibatkan koma hingga berhari-hari.
Diagnose dokter mengatakan seandainya sembuh dari koma, Endi pasti akan mengalami kecacatan permanen. Namun dokter adalah manusia biasa, Dia boleh mendiagnosa tapi tuhan yang punya keputusan, setelah sadar dari komanya dia dinyatakan sembuh tanpa cacat setelah 2 bulan berbaring dirumah sakit.
Pelan-pelan Endi mulai membangun dirinya dengan kepercayaan diri dan mulai menyesuaikan diri untuk bisa menerima keadaan dirinya berbeda dengan orang lain dan itu butuh proses yang tidak mudah. Dengan kegigihannya Diapun berhasil menyelesaikan bangku SMA dan melanjutkan kebangku kuliah, Melanjutkan ke jurusan pendidikan meskipun itu bukan cita-cita utamanya namun dilewatinya dengan optimis, meski harus berkali-kali cuti dari bangku kuliah karena sakit dan harus sangat hati-hati apabila Dia harus naik turun tangga kampus, namun hal yang patut kita salutin adalah Endi berhasil menyelesaikan kuliahnya S1-nya tepat waktu, dengan pandangan yang mulai optimis menjalani hari-harinya, menurutnya pendidikan adalah tetap yang utama untuk bisa survive ke masa depan, karena hidup tidak akan tergantung pada orang lain. Sebuah pandangan yang sangat berbeda setelah Ia melewati berbagai proses yang Ia alami dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita memilki semangat. Itulah semangat yang dimilikinya, semangat seorang penderita hemofilia yang pernah menganggap dirinya tidak berguna dan bermasa depan suram.
Setelah menyelesaikan kuliah dengan ijazah kependidikannya seperti layaknya orang yang tidak memiliki memiliki kekurangan Diapun bisa bekerja menjadi tenaga pengajar disekolah swasta, akhirnya Di bisa membuktikan bahwa Ia bisa berguna buat orang lain meski dengan segala keterbatasannya, bahkan belum puas dengan apa yang dicapainya diapun mencoba mengabdikan diri dengan mengajar di sekolah negeri dengan harapan bisa lebih menjamin masa depannya. Bahkan ketika Dia bertemu dengan guru SMP-nya sempat tidak percaya kalau seorang Endi bisa menjadi guru mengingat waktu duduk dibangku sekolah, masuk sekolah bisa dihitung karena sakit, bahkan bisa 3 bulan alpha hingga banyak ketinggalan pelajaran. Tiga tahun sudah kini Ia bekerja sebagai pengajar di sebuah SMP Negeri daerah Serang, menjadi tenaga honorer dengan penghasilan yang kurang memadahi tetap dijalaninya dengan semangat dan penuh optimis dan terus berharap agar pemerintah memperhatikan akan nasib mereka yang seprofesi untuk mendapatkan kesejahteraan yang lebih layak apalagi harapan untuk bisa diangkat menjadi PNS.
Mungkin lagu populer ciptaan iwan Fals yang berjudul “Umar Bakri” memang nyata adanya karena ternyata dalam realita masih banyak Umar Bakri-Umar Bakri yang kurang diperhatikan oleh pemerintah dan mendapatkan penghasilan yang kurang sesuai dengan pengabdiannya. Apalagi sebagai penderita hemofilia kebutuhan untuk berobat sangatlah mahal, subsidi pemerintahpun masih snagat kurang padahal nyawa mereka tergantung dari obat-obatan tersebut seumur hidupnya, sudah selayaknya pemerintah tidak tutup mata dan memeperhatikan hal-hal tersebut untuk generasi kedepan. Mereka adalah ujung tombak yang turut mencerdaskan bangsa.
Hal yang menjadikan Dia begitu hebat adalah ketekunannya dan kesabarannya dalam menerima semua itu dengan ikhlas tanpa mematahkan semangatnya untuk tetap menjadi manusia yang berguna tanpa harus bergantung dengan orang lain ditengah kondisinya yang semestinya dia mengharap bantuan orang lain, keterbatasan fisiknya tidak pernah menghentikan langkahnya untuk tetap bersosialisasi dengan masyarakat, bahkan seolah-oleh tanpa merasa memiliki kekurangan apapun dia berada diantara teman-teman komunitas motornya yang sebenarnya secara medis sangat tidak diperbolehkan dia mengkuti aktifitas tersebut karena kegiatan yang sangat beresiko terhadap jiwanya bahkan berakibat kematian. Tapi itula seorang Endi, pemuda yang sekarang berprofesi sebagai guru. Dia bisa melawan rasa takutnya dan mengalahkan segala resiko yang menjadi hambatan untuk bisa berdampingan dengan orang lain yang tidak memiliki kekurangan seperti dirinya. Hal yang patut kita pelajari dan memberikan inspirasi buat kita adalah, bahwa apapun keadaan kita tetaplah optimis dalam menjalani hidup dan jangan mudah menyerah apalagi takut akan tantangan. Keberhasilan tidak akan bisa diraih bila perjuangan tidak kita jalani.
“ Andaikan saya dikarunia badan sehat normal seperti orang lain apapun akan saya lakukan, tapi mengapa mereka yang dianugrahi kesempurnaan sering banyak yang menyia-nyiakan waktu dan kesempatan” begitu pesan pemuda itu ditengah-tengah komunitas club motornya, bahkan teman-teman clubnya menganggap Dia begitu kuat hingga menjabat wakil ketua seperti tidak ada yang tahu Dia sebenarnya penderita Hemofilia.itasyani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar